Jumat, 18 November 2011

ANALISIS NOVEL AYAT-AYAT CINTA MELALUI PENDEKATAN STRUKTURAL

BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang
Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni ( Wellek & Warren, 1990:3 ). Dikatakan sebuah karya seni karena memiliki suatu nilai keindahan dalam karya tersebut. Meskipun demikian, karya seni juga memiliki cakupan yang cukup luas. Dengan definisi ini, seni lukis dan seni pahat, misalnya, masih termasuk dalam kategori karya sastra. Hal ini merepotkan. Oleh karena itu, para ahli mempersempit definisi ini dengan mengatakan bahwa karya seni yang termasuk dalam karya sastra adalah karya yang berupa hasil imajinasi atau menulis kreatif ( Bachrudin, 2008:22 ). Melalui pembatasan seperti ini, buku telepon dan buku resep masakan tentunya tidak termasuk dalam kategori karya sastra. Begitu pula dengan berbagai jenis lukisan dan seni pahat yang tidak berbentuk tulisan. Objek yang termasuk karya sastra adalah puisi, drama, prosa fiksi, dan berbagai jenis karya tulis imajinatif lainnya.
Satu diantara karya sastra adalah novel. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel adalah tulisan berupa karangan prosa yang panjang dan menceritakan sebuah kisah. Novel merupakan teks fiksi yang lahir dari daya cipta, imajinatif, kreatif, dan eksploratif pengarang untuk menyampaikan segala kehendak atau segala yang menggejala dalam kesadaran batin pengarang. Penyampaian tersebut dinyatakan lewat unsur-unsur fiksional yang berlaku atau telah menjadi konvensi dalam penulisan prosa, sehingga terwujud dalam bentuk artefak sastra yang memuat unsur kreatif.
Novel yang akan saya analisis adalah Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Terpilihnya novel ini karena saya sendiri secara pribadi menyukai jalan cerita dari novel tersebut. Novel ini merupakan novel sastra yang berhasil memadukan dakwah, tema cinta, dan latar belakang budaya suatu bangsa.
Adapun cara menganalisis novel ini melalui pendekatan strukturalisme murni. Pendekatan ini dipandang lebih obyektif karena hanya berdasarkan sastra itu sendiri. Tanpa campur tangan unsur lain, karya sastra tersebut akan dilihat sebagaimana cipta estetis (Suwardi, 2011:51 ).


B.          Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, saya mencoba mengidentifikasi masalah saya ini. Identifikasi masalahnya sebagai berikut.
1.      Apa tema dari novel ini ?
2.      Bagaimana alur dari novel Ayat-ayat Cinta ini ?
3.      Siapa saja tokoh dalam novel ini ?
4.      Seperti apa setting atau latarnya ?
5.      Bagaimana sudut pandangnya ?


C.          Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Pendeskripsian tema.
2.      Pendeskripsian alur.
3.      Pendeskripsian tokoh.
4.      Pendeskripsian setting atau latarnya.
5.      Pendeskripsian sudut pandang.

BAB II
PEMBAHASAN

          Pendekatan strukturalisme murni hanya berada di seputar karya sastra itu sendiri. Prinsipnya jelas : analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, sedetail, dan mendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh ( Teeuw, 1984:135 ).
            Dalam ilmu sastra pengertian “strukturalisme” sudah dipergunakan dalam berbagai cara. Istilah “struktur” ialah kaitan-kaitan tetap antara kelompok –kelompok gejala. Kaitan-kaitan tersebut diadakan oleh seorang peneliti berdasarkan observasinya. Misalnya, pelaku-pelaku dalam sebuah novel dapat dibagikan menurut kelompok-kelompok sebagai berikut : tokoh utama, mereka yang melawannya, meraka yang membantunya, dan seterusnya. Pembagian menurut kelompok-kelompok didasarkan atas kaitan atau hubungan. Hubungan-hubungan tersebut bersifat tetap, artinya tidak tergantung pada sebuah novel tertentu (Luxemburg, 1984:36 ).
            Dalam lingkup karya fiksi, Stanton ( 1965: 11-36, dalam Drs. Tirto Suwondo, Metodologi Penelitian Sastra, 2001:56 ) mendeskripsikan unsur-unsur struktur karya sastra seperti berikut. Unsur-unsur pembangun struktur terdiri atas tema, fakta cerita, dan sarana sastra. Fakta cerita itu sendiri terdiri atas alur, tokoh, dan latar; sedangkan sarana sastra biasanya terdiri atas sudut pandang, gaya bahasa dan suasana, simbol-simbol, imaji-imaji, dan juga cara-cara pemilihan judul. Di dalam karya sastra, fungsi sarana sastra adalah memadukan fakta sastra dengan tema sehingga makna karya sastra itu dapat dipahami dengan jelas.
Oleh karena itu, dalam makalah ini, saya menganalisis novel Ayat-ayat Cinta dengan menggunakan beberapa unsur intrinsik, yaitu : tema, alur, tokoh, setting atau latar, dan sudut pandang.  Penjelasannya akan saya sajikan per bagian agar jelas dan dapat dipahami.

A.   Tema
Istilah tema menurut Scharbach ( Aminuddin, 2010:91 ) berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘tempat meletakkan suatu perangkat’. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Sebab itulah penyikapan terhadap tema yang diberikan pengarangnya dengan pembaca umumnya terbalik. Seorang pengarang harus memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan, sementara pembaca baru dapat memahami tema bila mereka telah selesai memahami unsur-unsur signifikan yang menjadi media pemapar tema tersebut.
Pada bagian awal cerita, dipaparkan tentang gambaran kota Cairo, tempat dimana tokoh utama dan tokoh yang lain. Pemaparan tokoh utama tidak langsung melalui kalimat, melainkan melalui kegiatan rutin yang akan dilakukannya. Seperti dalam kutipan di bawah ini :
Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen ( rasa malas melakukan sesuatu ), aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Sidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi ( belajar langsung face to face dengan seorang syaikh atau ulama ) pada Syaikh Utsman Abdul Fatah (hlm. 16).

Tokoh lain yang juga memiliki peranan penting adalah Maria. Ia merupakan tetangga Fahri. Maria yang seorang Kristen Koptik mampu menghapal beberapa ayat Al-Quran.  Berikut kutipannya :
Di dunia ini memang banyak sekali rahasia Tuhan yang tidak bisa dimengerti oleh manusia lemah seperti diriku. Termasuk kenapa ada gadis seperti Maria. Dan aku pun tidak merasa perlu untuk bertanya padanya kenapa tidak mengikuti ajaran Al-Quran (hlm. 27).

Diam-diam Maria mencintai Fahri. Hal itu baru diketahui Fahri ketika ia sudah menikah dengan Aisha. Kejadian itu ketika Fahri difitnah dan masuk penjara. Berikut kutipannya :
Yousef langsung menyahut, “Benar Fahri, Maria sangat mencintaimu. Aku telah membaca diary-nya. Dia menulis semua perasaan cintanya padamu di sana. Dalam diary-nya itu aku juga menemukan kwitansi pembayaran semua biaya pengobatanmu. Maria diam-diam mengambil tabungannya dan membayar pengobatanmu tanpa ada satupun dari kami yang tahu. Dia sangat mencintaimu. Sayang diary-nya tidak aku bawa. Nanti akan aku membawa kemari agar kau bisa membacanya sendiri.” (hlm. 341-342)

Tokoh selanjutnya yaitu Aisha. Pertemuannya pertama kali dengan Fahri adalah ketika di dalam sebuah metro ( kereta listrik, disebut juga trem ). Saat itu ada tiga turis Amerika yang kepanasan dan dengan pakaian yang sangat jauh berbeda dengan penduduk Cairo. Di suhu yang panas itu metro penuh dan mereka tidak mendapatkan tempat duduk. Aisha memberikan kursinya untuk satu diantara bule yang sudah nenek-nenek. Berikut kutipannya :
Nenek bule kelihatannya tidak kuat lagi berdiri. Ia hendak duduk menggelosor di lantai. Belum sempat nenek bule itu benar-benar menggelosor, tiba-tiba perempuan bercadar itu berteriak mencegah. Perempuan bercadar putih bersih itu bangkit dari duduknya. Sang nenek dituntun dua anaknya beranjak ke tempat duduk (hlm. 41).

“Mein name ist Aisha,” sahutnya sambil menyerahkan kartu nama. Ia lalu menyodorkan buku notes kecil dan pulpen (hlm. 56).

Pertemuan di metro itulah yang membuat awal rasa suka keduanya, hingga terjadi perjodohan yang sebenarnya atas permintaan Aisha. Berikut kutipannya :
“Baiklah, aku akan bicara dari hatiku yang terdalam. Fahri, dengan disaksikan semua yang hadir di sini, kukatakan aku siap menjadi pendamping hidupmu. Aku sudah mengetahui banyak hal tentang dirimu. Dari Paman Eqbal, dari Nurul dan orang-orang satu rumahnya. Dari Ustadzah Maemuna istri Ustadz Jalal. Dari Ruqoyya, istri Aziz. Aku kan sangat berbahagia menjadi istrimu. Dan memang akulah yang meminta Paman Eqbal untuk mengatur bagaimana aku bisa menikah denganmu. Akulah yang minta.” Aisha menjawab dengan bahasa Arab fusha yang terkadang masih ada susunan tata bahasa yang keliru, namun tidak mengurangi pemahaman orang yang mendengarkannya. Suaranya terasa lembut dan indah, lebih lembut dari suaranya saat berkenalan di metro dan beberapa kali bertemu, di Tahrir dan di National Library. Aku tidak tahu kenapa. Apakah karena aku kini telah jatuh cinta padanya ? Jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Dan semoga juga yang terakhir kalinya (hlm. 215-216).

Selanjutnya yaitu Noura. Dia adalah tetangga Fahri dan Maria. Awal cerita tentang Noura adalah pada suatu malam dia disiksa oleh ayahnya sendiri. Berikut kutipannya :
Kami kenal gadis itu. Kasihan benar dia. Malang nian nasibnya. Namanya Noura. Nama yang indah dan cantik. Namun nasibnya selama ini tak seindah nama dan paras wajahnya. Noura masih belia. Ia baru saja naik ke tingkat akhir Ma’had Al-Azhar putri. Sekarang sedang libur musim panas. Tahun depan jika lulus dia baru akan kuliah. Sudah berulang kali kami melihat Noura dizalimi oleh keluarganya sendiri. Ia jadi bulan-bulanan kekasaran ayahnya dan kedua kakaknya. Entah kenapa ibunya tidak membelanya. Kami heran dengan apa yang kami lihat. Dan malam ini kami melihat hal yang membuat hati miris. Noura disiksa dan diseret tengah malam ke jalan oleh ayah dan kakak perempuannya. Untung tidak musim dingin. Tidak bisa dibayangkan jika ini terjadi pada puncak musim dingin (hlm. 73-74).

Hal itu yang membuat Fahri ingin menolong Noura melalui Maria. Namun pada suatu hari Fahri ditangkap atas tuduhan memperkosa Noura. Berikut kutipannya :
“Akui saja, kau yang memperkosa gadis bernama Noura yang jadi tetanggamu di Hadayek Helwan pada jam setengah empat dini hari Kamis 8 Agustus yang lalu? Akui saja, atau kami paksa kau untuk mengaku! Jika kau mengakuinya maka urusannya akan cepat.”
Kata-kata polisi itu membuatku kaget bukan main. Noura hamil dan aku yang dituduh memperkosanya. Sungguh celaka! (hlm. 307-308)

Di dalam cerita ini, ada tokoh yang bernama Nurul. Nurul adalah mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Indonesia.  Satu-satunya nama seorang gadis yang membuat hati Fahri berbunga-bunga dan bergetar hatinya. Namun Fahri berprinsip tidak akan menjemput cinta seorang wanita. Hingga di hari pernikahannya dengan Aisha, Fahri baru menyadari bahwa Nurul juga mencintai dia. Berikut kutipannya :
“Orang yang dicintai Nurul, yang namanya selalu ia sebut dalam doa-doanya, yang membuat dirinya satu minggu ini tidak bisa tidur entah kenapa, adalah  FAHRI BIN ABDULLAH SHIDDIQ!”
Mendengar namaku yang disebut aku bagaikan mendengar gelegar petir menyambar telingaku. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dari lisan Ustadz Jalal (hlm. 230).

Dalam hati aku menyumpahi kebiasaan buruk orang Jawa. Alon-alon waton kelakon! Jadinya selalu terlambat. Jika dua bulan yang lalu Nurul mengucapkan empat kata saja: “Maukah kau menikahi aku?” Maka tak akan ada kepedihan ini (hlm. 231).
Dari pemaparan tokoh-tokoh yang berperan penting dalam novel ini, maka temanya sangat jelas. Tema dari novel Ayat-ayat Cinta adalah tentang percintaan yang kental dengan nuansa religi, yang terjadi di sekitar Timur Tengah. Dapat kita lihat, empat orang wanita sama-sama menyukai satu orang, yaitu Fahri. Mereka mencintai Fahri karena sifat dan sikapnya yang baik, serta menjadi idaman setiap wanita. Cara mereka mencintai juga bernuansa religi, tidak vulgar, namun tampak secara perlahan.

B.   Alur
Alur adalah sambung-sinambungnya peristiwa berdasarkan sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan dan menunjukkan mengapa peristiwa itu terjadi melainkan juga mengemukakan dan menunjukan akibat peristiwa itu terjadi. Jadi, alur adalah struktur gerak yang terdapat dalam suatu cerita atau sebuah konstruksi yang dibuat pengarang yang secara logik dan kronologik saling berkaitan yang diakibatkan atau dialami pelaku (Luxemburg, 1984 : 149).
Menurut saya, alur yang digunakan pada novel ini merupakan alur campuran. Pada bagian awal memang menggunakan alur maju. Namun di satu sisi pengarang sering memaparkan kisah masa lalu dari tokoh-tokoh di novel ini, sehingga kita ikut terhanyut untuk flashback ke masa lalu tersebut. Berikut kutipannya :
Kutipan 1
Ia seorang Kristen Koptik atau dalam bahasa asli Mesirnya qibthi, namun ia suka pada Al-Quran. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Quran. Di antaranya surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga. Aku mengetahui hal itu pada suatu kesempatan berbincang dengannya di dalam metro. Kami tak sengaja berjumpa. Ia pulang kuliah dari Cairo University, sedangkan aku juga pulang kuliah dari Al Azhar University. Kami duduk satu bangku. Suatu kebetulan (hlm. 23).

Kutipan 2

Sedangkan Saiful yang waktu SMP pernah diajak ayahnya ke Turki bercerita tentang indahnya malam di teluk Borporus. Ia bercerita detil teluk Borporus. Lalu mengajak kami membayangkan bagaimana Sultan Muhammad Al-Fatih merebut Konstantinopel dengan memindahkan puluhan kapal di malam hari lewat daratan dan menjadikan kapal itu jembatan untuk menembus benteng pertahanan Konstantinopel (hlm. 73).

Kutipan 3

Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Aku belum pernah memberikan kado pada ibuku sendiri di Indonesia. Sebelum kenal Cairo aku adalah orang desa yang tidak kenal dengan namanya kado. Di desa hadiah adalah membagi rizki pada tetangga agar semua mencicipi suatu nikmat anugerah Gusti Allah. Jika ada yang panen mangga ya semua tetangga dikasih biar ikut merasakan (hm. 115).

Jadi, kembali saya simpulkan bahwa alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran. Hal itu dikarenakan ada beberapa bagian cerita yang merupakan alur mundur dari tokoh dalam cerita, namun ada juga yang menggunakan alur maju.

C.   Tokoh
Tokoh  dan penokohan merupakan dua  istilah  yang sering  dijumpai  dalam penelitian sastra, tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa sehingga peristiwa itu mampu menjalin sebuah cerita sedangkan penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Bila ditinjau dari segi pengarang ada dua meode untuk melukiskan dan memperkenalkan tokoh dan watak, (Mido, dalam http://memperkenalkan-tokoh-watak.123337/4756.pdf  ) yaitu :
1.      Metode langsung yaitu pengarang langsung melukiskan tokoh baik bidang fisiologi, sosiologi dan psikologi. Metode ini disebut juga metode atau cara analitik.
2.      Metode tak langsung adalah pengarang secara tidak langsung membuat deskripsi tentang para tokoh. Pembaca mengetahui para tokoh dan perwatakannya bukan dari keterangan yang diberikan pengarang, tetapi dari hal-hal lain. Metode ini biasa disebut metode atau cara dramatik.

Dalam upaya memahami watak pelaku, pembaca dapat menelusurinya lewat beberapa hal sebagai berikut ( Aminuddin, 2010 : 80 ) :
1.      tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya,
2.   gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya maupun caranya berpakaian,
3.   menunjukkan bagaimana perilakunya,
4.   melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri,
5.   memahami bagaimana jalan pikirannya,
6.   melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya,
7.   melihat bagaimana tokoh lain berbincang dengannya,
8.   melihat bagaimana tokoh-tokoh yang lain itu memberikan reaksi terhadapnya, dan
9.   melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh yang lainnya.
Oleh karena itu, saya akan memaparkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy ini.
1.    Fahri
Fahri merupakan tokoh sentral dalam cerita ini. Dalam novel ini, Fahri menempatkan dirinya sebagai “Aku”. Pada bagian awal cerita, Fahri tidak langsung memperkenalkan namanya dahulu, melainkan melaui aktivitas-aktivitasnya. Berikut kutipannya :
Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen ( rasa malas melakukan sesuatu ), aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Sidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi ( belajar langsung face to face dengan seorang syaikh atau ulama ) pada Syaikh Utsman Abdul Fatah (hlm. 16).

Penyebutan nama tokoh itu sendiri pada saat Saiful, teman satu flat Fahri menyapanya. Berikut kutipannya :
“Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?” saran Saiful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan (hlm. 18).

Fahri juga sosok seorang pemimpin. Dalam flat yang beranggotakan lima orang, dia berperan sebagai kepala rumah tangga. Berikut kutipannya :
Sebagai yang dipercaya untuk jadi kepala keluarga―meskipun tanpa seorang ibu rumah tangga―aku harus jeli memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan anggota (hlm. 19).

Urusan-urusan kecil seperti belanja, memasak dan membuang sampah, jika tidak diatur dengan bijak dan baik akan menjadi masalah, dan akan menggangu keharmonisan (hlm. 20).

Sosok Fahri adalah orang yang ulet dan berpendidikan. Dalam cerita, saat itu Fahri sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan tesis. Agar semua cita-citanya tercapai, dia membuat rancangan hidup hingga sepuluh tahun kedepan. Berikut kutipannya :
Aku sendiri yang sudah tidak aktif di organisasi manapun, juga mempunyai jadwal dan kesibukan. Membaca bahan untuk tesis, talaqqi qiraah sab’ah, menerjemah, dan diskusi intern dengan teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S2 dan S3 di Cairo (hlm. 20).

Yang kutempel memang arah hidup sepuluh tahun ke depan. Target-target yang harus kudapat dan apa yang harus kulakukan. Lalu peta hidup satu tahun ini. Kutempel di depan tempat belajar untuk penyemangat. Dan memang kutulis dengan bahasa Arab (hlm. 142).

Dalam hal asmara, Fahri selektif dalam memilih pasangan. Ia juga berprinsip bahwa dia tidak akan menjemput wanita itu. Hal itu dikarenakan ia merasa malu status ekonominya rendah. Bahkan ia ingin wanita itu yang menjemputnya. Berikut kutipannya :
Akh Eqbal, semestinya bukan aku yang kau tanya. Tanyalah Aisha, apakah dia siap memiliki seorang suami seperti aku? Kau tentu sudah tahu siapa aku. Aku ini mahasiswa yang miskin. Anak seorang petani miskin di kampung pelosok Indonesia,” jawabku terbata-bata sambil terisak. “Apakah aku kufu dengannya ? Aku merasa tidak pantas bersanding dengan keponakanmu itu. Aku tidak ingin dia kecewa di belakang hari,” lanjutku (hlm. 215).

Waktu di Aliyah dulu, aku pernah naksir pada seorang gadis tapi tak pernah sampai menyentuh hati. Tak pernah sampai merindu dendam. Aku bahkan tak punya keberanian untuk menyapanya atau mengingat namanya. Diriku yang saat itu hanya berstatus sebagai khadim romo kiai, batur para santri, tak berani sekadar mendogakkan kepala kepada seorang santriwati (hlm. 221).

Dalam hati aku menyumpahi kebiasaan buruk orang Jawa. Alon-alon waton kelakon! Jadinya selalu terlambat. Jika dua bulan yang lalu Nurul mengucapkan empat kata saja: “Maukah kau menikahi aku?” Maka tak akan ada kepedihan ini (hlm. 231).

Fahri juga suka memberi kejutan. Hal itu terbukti pada kutipan berikut :
Aku paling suka memberi kejutan pada teman atau kenalan. Teman satu rumah sudah mendapatkan hadiah mereka pada hari istimewa mereka. Berarti besok kegiatannya bertambah satu, mencarikan hadiah untuk Madame Nahed dan Yousef. Hadiah yang sederhana saja. Sekadar untuk memberikan rasa senang di hati tetangga (hlm. 92).

2.  Maria
Pengenalan sosok Maria adalah penuturan dari orang lain. Berikut kutipannya :
Ia seorang Kristen Koptik atau dalam bahasa asli Mesirnya qibthi, namun ia suka pada Al-Quran. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Quran. Di antaranya surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga. Aku mengetahui hal itu pada suatu kesempatan berbincang dengannya di dalam metro. Kami tak sengaja berjumpa. Ia pulang kuliah dari Cairo University, sedangkan aku juga pulang kuliah dari Al Azhar University. Kami duduk satu bangku. Suatu kebetulan (hlm. 23).
Maria merupakan sosok perempuan yang sangat sopan, baik dalam berpakaian maupun dalam bertingkah laku. Seperti layaknya seorang muslimah. Berikut kutipannya :
Kutipan 1
Dalam hal etika berbicara dan bergaul terkadang ia lebih Islami daripada gadis-gadis Mesir yang mengaku muslimah. Jarang sekali kudengar ia tertawa cekikikan. Ia lebih suka tersenyum saja. Pakaiannya longgar, sopan, dan rapat. Selalu berlengan panjang dengan bawahan panjang sampai tumit. Hanya saja, ia tidak memakai jilbab. Tapi itu jauh lebih sopan ketimbang gadis-gadis Mesir seusianya yang berpakaian ketat dan bercelana ketat, dan tidak jarang bagian perutnya sedikit terbuka. Padahal mereka banyak mengaku muslimah. Maria suka pada Al-Quran. Ia sangat mengaguminya, meskipun ia tidak pernah mengaku muslimah. Penghormatannya pada Al-Quran mungkin melebihi beberapa intelektual muslim (hlm. 25).

Kutipan 2
Maria masih terus berusaha. Akhirnya kulihat Noura memeluk Maria dengan tersedu-sedu. Maria memperlakukan Noura seolah adiknya sendiri. Sambil memeluk Noura, Maria menengok ke arahku. Aku menganggukkan kepala. Kulihat jam dinding, pukul dua empat puluh lima menit. Teman-teman sudah terlelap. Mereka kekenyangan makan. Maria masih memeluk Noura. Cukup lama mereka berpelukan (hlm. 76-77).

Kutipan 3

Sebenarnya Maria bisa bicara langsung tanpa melalui handphone. Tapi dia harus bersuara sedikit keras, dan itu akan mengganggu tetangga yang tidur. Maria memang tidak seperti Mona dan Suzana, dua kakak perempuan Noura yang genit dan keras bicaranya (hlm. 77).

Maria juga seorang wanita yang perhatian, khususnya kepada Fahri, otang yang ia cintai. Berikut kutipannya :
Kutipan 1

Maria melakukan sesuatu yang tidak biasanya dilakukan gadis Mesir. Juga tidak akan pernah ada lelaki di Mesir memakai payung untuk melindungi diri dari sengatan matahari (hlm. 154).

Kutipan 2

Aku menggantikan Saiful menjaganya. Aku tak kuasa menahan sedih dan airmataku. Aku tak kuasa menahan rasa sedih yang berselimut rasa cinta dan sayang padanya (hlm. 374).


Kutipan 3

Yousef langsung menyahut, “Benar Fahri, Maria sangat mencintaimu. Aku telah membaca diary-nya. Dia menulis semua perasaan cintanya padamu di sana. Dalam diary-nya itu aku juga menemukan kwitansi pembayaran semua biaya pengobatanmu. Maria diam-diam mengambil tabungannya dan membayar pengobatanmu tanpa ada satupun dari kami yang tahu. Dia sangat mencintaimu. Sayang diary-nya tidak aku bawa. Nanti akan aku membawa kemari agar kau bisa membacanya sendiri.” (hlm. 341-342)

3. Aisha
Aisha pada awal cerita adalah sosok perempuan bercadar yang menolong nenek bule yang tidak memiliki tempat duduk di metro. Hal ini tampak bahwa sosok Aisha adalah orang yang menghargai orang yang lebih tua. Berikut kutipannya :
Kutipan 1
Nenek bule kelihatannya tidak kuat lagi berdiri. Ia hendak duduk menggelosor di lantai. Belum sempat nenek bule itu benar-benar menggelosor, tiba-tiba perempuan bercadar itu berteriak mencegah. Perempuan bercadar putih bersih itu bangkit dari duduknya. Sang nenek dituntun dua anaknya beranjak ke tempat duduk (hlm. 41).

Kutipan 2

Perempuan bercadar masih bercakap dengan perempuan bule. Keduanya sangat dekat denganku. Aku bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Perempuan bercadar itu ternyata lahir di Jerman, dan besar juga di Jerman. Namun ia berdarah Jerman, Turki, dan Palestina (hlm. 54)

Kutipan 3

“Mein name ist Aisha,” sahutnya sambil menyerahkan kartu nama. Ia lalu menyodorkan buku notes kecil dan pulpen (hlm. 56).


Aisha juga orang yang suka mengajarkan kebaikan. Ia melakukan pertemuan dengan Fahri dan Alicia, bule yang tempo hari bertemu di metro, untuk membahas seputar agama Islam. Berikut kutipannya :
Alicia ingin sekali bertanya banyak hal padaku sejak kejadian di atas metro itu. Aisha memohon dengan sangat, sebab menurutnya ini kesempatan yang baik untuk menjelaskan Islam yang sebenarnya pada orang Barat (hlm. 91).

Ketika Aisha bertemu Fahri dalam ta’aruf, ia mencintai Fahri apa adanya. Dia juga yang meminta Paman Eqbal untuk mengatur agar bisa manikah dengan Fahri. Berikut kutipannya :
“Baiklah, aku akan bicara dari hatiku yang terdalam. Fahri, dengan disaksikan semua yang hadir di sini, kukatakan aku siap menjadi pendamping hidupmu. Aku sudah mengetahui banyak hal tentang dirimu. Dari Paman Eqbal, dari Nurul dan orang-orang satu rumahnya. Dari Ustadzah Maemuna istri Ustadz Jalal. Dari Ruqoyya, istri Aziz. Aku kan sangat berbahagia menjadi istrimu. Dan memang akulah yang meminta Paman Eqbal untuk mengatur bagaimana aku bisa menikah denganmu. Akulah yang minta.” Aisha menjawab dengan bahasa Arab fusha yang terkadang masih ada susunan tata bahasa yang keliru, namun tidak mengurangi pemahaman orang yang mendengarkannya. Suaranya terasa lembut dan indah, lebih lembut dari suaranya saat berkenalan di metro dan beberapa kali bertemu, di Tahrir dan di National Library. Aku tidak tahu kenapa. Apakah karena aku kini telah jatuh cinta padanya ? jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Dan semoga juga yang terakhir kalinya (hlm 215-216).

Aisha adalah orang yang tegar. Ia rela Fahri menikah dengan Maria agar menyelamatkan Fahri dari kasus fitnah yang sedang dialaminya.
“Menikahlah dengan dia, demi anak kita. Kumohon ! Jika Maria tidak memberikan kesaksiannya, maka aku tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyelamatkan ayah dari anak yang kukandung ini.” Setetes air bening keluar dari sudut matanya (hlm. 376).

Aisha orang yang sangat penyayang. Tidak hanya kepada Fahri, tetapi juga pada Maria, yang saat itu merupakan istri kedua Fahri. Berikut kutipannya :
Ia sangat setia menunggui diriku dan menunggui Maria. Ia bahkan serig tidur sambil duduk di samping Maria. Aisha menganggap Maria seperti adiknya sendiri. Beberapa kali aku memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur dan menemani Aisha menunggu Maria (hlm. 390).

4. Nurul
Seperti dikatakan sebelumnya, Nurul adalah mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Indonesia. Di dalam novel ia beberapa kali berinteraksi dengan tokoh utama, yaitu Fahri. Berikut kutipannya :
Aku lalu mengutarakan maksudku, meminta bantuannya, agar bisa menerima Noura bersembunyi di rumahnya beberapa hari. Mula-mula Nurul menolak. Ia takut kena masalah. Di samping itu, tinggal bersama gadis Mesir belum tentu mengenakkan. Aku jelaskan kondisi Noura. Akhirnya Nurul menyerah dan siap membantu (hlm. 84).

Nurul juga orang yang aktif. Ia tak hanya mengikuti organisasi-organisasi. Bahkan ia menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak membaca Al-Quran. Berikut kutipannya :
Diam-diam aku salut pada Nurul. Meskipun ia menjadi ketua umum organisasi mahasiswi Indonesia paling bergengsi di Mesir, tapi ia tidak pernah segan untuk menyempatkan waktunya mengajar anak-anak membaca Al-Quran (hlm. 104).

Namun sosok Nurul adalah orang yang memendam perasaanya. Ia jatuh hati dengan Fahri. Hal itu telah ia sampaikan kepada pamannya, agar pamannya menjelaskan kepada Fahri. Namun karena sesuatu hal penyampaian itu sudah terlambat. Berikut kutipannya :

Kutipan 1
“Sejak dua bulan yang lalu. Sejak ia menangis di pangkuanku, Nurul sering menangis sendiri. Berkali-kali dia cerita padaku akan hal itu. Ia ingin sekali orang itu tahu bahwa dia sangat mencintainya, lalu orang itu membalas cintanya dan langsung melaksanakan sunnah Rasulullah. Nurul anti pacaran. Tapi rasa cinta di dalam hati siapa bisa mencegahnya. Aku tahu benar Nurul siap berkorban apa saja untuk kebaikan orang yang dicintainya itu bantulah kami untuk membuka hati orang itu?” kata Ustadzah Maemuna (hlm. 229-230).

Kutipan 2

“Orang yang dicintai Nurul, yang namanya selalu ia sebut dalam doa-doanya, yang membuat dirinya satu minggu ini tidak bisa tidur entah kenapa, adalah  FAHRI BIN ABDULLAH SHIDDIQ!”
Mendengar namaku yang disebut aku bagaikan mendengar gelegar petir menyambar telingaku. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dari lisan Ustadz Jalal (hlm. 230).

Kutipan 3

Dalam hati aku menyumpahi kebiasaan buruk orang Jawa. Alon-alon waton kelakon! Jadinya selalu terlambat. Jika dua bulan yang lalu Nurul mengucapkan empat kata saja: “Maukah kau menikahi aku?” Maka tak akan ada kepedihan ini (hlm. 231).

5. Syaikh Utsman Abdul Fattah

Beliau adalah seorang ulama. Fahri adalah satu diantara murid beliau. Berikut kutipannya :
Kutipan 1
Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen ( rasa malas melakukan sesuatu ), aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Sidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi ( belajar langsung face to face dengan seorang syaikh atau ulama ) pada Syaikh Utsman Abdul Fatah. Beliau adalah murid Syaikh Mohmoud Khushari, ulama legandaris yang mendapat julukan Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Quran di Mesir (hlm. 16).

Kutipan 2

Beliau selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak ada uzur yanng teramat penting, beliau pasti datang. Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarangan menerima murid untuk talaqqi qiraah sab’ah (hlm. 16-17).

Kutipan 3

Tahun ini, beliau hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-Quran pada beliau di serambi Al-Azhar. Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. Tak heran jika beliau menganakemaskan diriku (hlm. 17).

5. Keluarga Maria

Keluarga Maria sendiri yaitu ayah, ibu, dan adiknya. Mereka merupakan tetangga Fahri yang paling akrab. Berikut kutipannya :
Gadis mesir itu bernama Maria. Ia juga senang dipanggil Maryam. Dua nama yang menurutnya sama saja. Dia putri sulung Tuan Boutros Rafael Girgis. Berasal dari keluarga besar Girgis. Ibunya bernama Madame Nahed, dan adiknya bernama Yousef. Sebuah keluarga Kristen Koptik yang sangat taat.  Bisa dikatakan bahwa keluarga Maria adalah tetangga kami yang paling akrab. Ya, paling akrab. Flat atau rumah mereka berada tepat di atas flat kami. Indahnya, mereka sangat sopan dan menghormati kami mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Al-Azhar (hlm. 22-23).

6. Teman Satu Flat Fahri

Di sana, Fahri tinggal bersama teman-teman seperjuangan dari Indonesia. Mereka adalah Saiful, Rudi, Hamdi, dan Misbah. Berikut kutipannya :
Sebagai yang dipercaya untuk jadi kepala keluarga―meskipun tanpa seorang ibu rumah tangga―aku harus jeli memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan anggota. Dalam flat ini kami hidup berlima; aku, Saiful, Rudi, Hamdi, dan Misbah. Kebetulan aku yang paling tua, dan paling lama di Mesir. Secara akademis aku juga yang paling tinggi. Aku tinggal menunggu pengumuman untuk menulis tesis master di Al-Azhar. Yang lain masih program S1. Saiful dan Rudi baru tingkat tiga, mau masuk tingkat empat. Sedangkan Misbah dan Hamdi sedang menunggu pengumuman kelulusan untuk memperoleh gelar Lc. atau  Licence. Mereka semua telah menempuh ujian akhir tahun pada akhir Mei sampai Juni yang lalu. Awal-awal Agustus biasanya pengumuman keluar. Namun sampai hari ini,pengumuman belum juga ada yang ditempel (hlm. 19).

7. Keluarga Noura

Di dalam cerita ini, ternyata Noura ada dua keluarga. Yang pertama keluarga Bahadur, dan yang kedua keluarga Adel, keluarga kandungnya. Berikut kutipannya :
Kutipan 1

Ayah noura yang bernama Bahadur itu memang keterlaluan. Bicaranya kasar dan tidak bisa menghargai orang. Seluruh tetangga di apartemen ini dan masyarakat sekitar jarang yang mau yang mau berurusan dengan Si Hitam Bahadur. Istrinya bernama Madame Syaima. Kakak perempuan Noura bernama Mona atau Suzana (hm. 74).

Kutipan 2

Dari tes DNA, gen Noura tidak sama denga gen Si Muka Dingin Bahadur dan istrinya yaitu Madame Syaima. Gen Noura justru sama dengan milik suami istri bernama Tuan Adel dan Madame Yasmin yang kini jadi dosen di Ains Syam University yang saat itu melahirkan bayinya bersamaan harinya dengan Madame Syaima. Dan Nadia gadis yang selama ini mereka besarkan dengan penuh kasih sayang sama gennya dengan Si Muka Dingin Bahadur dan Madame Syaima (hlm. 242).


D.   Setting atau Latar
Latar adalah peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis (Aminuddin, 2010 : 67 ).  Maka dapat di simpulkan bahwa setting terdiri atas tiga macam yaitu setting yang bersifat material, setting yang bersifat sosiologis  dan setting yang bersifat psikologis. Setting yang bersifat material berhubungan dengan tempat, dapat di bumi, di udara, di kota bahkan dapat juga di dunia angan-angan, pokoknya segala sesuatu yang tampak. Setting yang bersifat sosiologis berhubungan dengan tempat-tempat dan benda benda yang dapat menjelaskan/ menjabarkan tentang kehidupan masyarakat di suatu tempat. Setting yang bersifat psikologis dapat berupa lingkungan atau benda-benda dalam lingkungan tertentu yang dapat menuansakan suatu makna serta mampu merangsang emosi pembaca.
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar suasana.
1. Latar Tempat
Di dalam novel ini, banyak tempat-tempat sekitar Cairo yang dipaparkan oleh penulis. Misalnya, di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak si Shubra El-Kaima, ujung utara Cairo; serambi Masjid Al-Azhar; di Dokki, tepatnya di Masjid Indonesia Cairo; Rab’ah El-Adawea, Nasr City; Tura El-Esmen; Hadayek Helwan; Masjid Al-Fath Al-Islami; mahathah metro; Maadi, sebuah kawasan elite di Cairo setelah Heliopolis, Dokki, El-Zamalek, dan Mohandesen;  Sayyeda Zaenab;  Tahrir;  Mahattah El-Behous;  Attaba;  flat;  rumah sakit;  Alexandria;  pengadilan; dan di surga . Berikut kutipannya :
Kutipan 1
Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung kota Cairo, untuk talaqqi  pada Syaikh Utsman Abdul Fatah (hlm. 16).

Kutipan 2

Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-Quran pada beliau di serambi Masjid Al-Azhar (hlm. 17).

Kutipan 3

Adapun Hamdi sudah dua hari ini punya kegiatan di Dokki, tepatnya di Masjid Indonesia Cairo. Ia diminta memberikan pelatihan kepemimpinan pada remaja masjid yang semuanya adalah putra-putri para pejabat KBRI (hlm. 19-20).

Kutipan 4

Sedangkan Misbah tengah berada di Rab’ah El-Adawea, Nasr City. Katanya ia harus menginap di Wisma Nusantara, di tempatnya Mas Khalid, untuk merancang draft pelatihan ekonomi Islam (hlm. 20).

Kutipan 5

Jadilah perjalanan dari Mahattah (stasiun, terminal) Anwar Sadat Tahrir sampai Tura El-Esmen kuhabiskan untuk menyimak seorang Maria membaca surat Maryam dari awal sampai akhir (hlm. 24).

Kutipan 6

Dari Tura El-Esmen hingga Hadayek Helwan Maria mengajak berbincang ke mana-mana (hlm. 24).


Kutipan 7

Tiga puluh meter di depan adalah Masjid Al-Fath Al-Islami. Masjid kesayangan. Masjid penuh kenangan tak terlupakan (hlm. 29).

Kutipan 8

Cepat-cepat kuayunkan kaki, berlari-lari kecil menuju mahathah metro yang berada tiga puluh lima meter di hadapanku (hlm. 32).

Kutipan 9

Metro sampai di Maadi, sebuah kawasan elite di Cairo setelah Heliopolis, Dokki, El-Zamalek dan Mohandesen. Sebagian orang malah mengatakan Maadi adalah kawasan paling elite. Lebih elite dari Heliopolis (hlm. 37).

Kutipan 10

Orang yang tinggal di kawasan agak kumuh Sayyeda Zaenab merasa lebih prestise dibandingkan dengan tinggal di kawasan lain di Cairo. Alasan mereka karena dekat dengan makam Sayyeda Zaenab, cucu Baginda Nabi Muhammad SAW (hlm. 37-38).

Kutipan 11

Beberapa orang turun dan naik. Tiga bule itu bersiap hendak turun, juga perempuan bercadar. Berarti mereka mau turun di Tahrir (hlm. 54).

Kutipan 12

Tak lama kemudian sampai di mahattah El-Behous. Antara mahattah Dokki dan mahattah El-Behous memang tidak terlalu jauh. Keduanya masih dalam satu kawasan, yaitu kawasan Dokki (hlm. 103).

Kutipan 13

Dari El-Behous aku langsung ke Attaba. Aku harus mencari hadiah untuk Madame  Nahed dan Yousef menyambut hari istimewa mereka (hlm. 108).


Kutipan 14

Menjelang Ashar aku tiba di flat dengan tenaga yang nyaris habis dan darah menguap kepanasan. Benar-benar lemas (hlm. 109).

Kutipan 15

Rumah sakit tempat Maria dirawat adalah rumah sakit tempat aku dulu dirawat. Begit sampai di sana Madame Nahed langsung meminta temannya untuk memeriksa kesehatanku (hlm. 367).

Kutipan 16

Setelah dua minggu di Alexandria, waktu pulang pun tiba. Dari mengaji pada Syaikh Zainuddin aku mendapatkan pengetahuan tentang fiqhul hadits yang sangat berharga. Dari Syaikh Zakaria Orabi aku mendapatkan kisah perjalanan hidup Syaikh Said An-Nursi, juga beberapa lembar teks khutbah Jumatnya yang ditulis tangan oleh Syaikh Said An-Nursi (hlm. 295).

Kutipan 17

Hakim gemuk dengan rambut hitam bercampur uban mempersilakan Noura yang sudah berdiri di podium untuk berbicara. Sementara aku berada di tempat terdakwa yang berbentuk seperti kerangkeng. Ratusan mata memandang Noura dengan seksama (hlm. 333).

Kutipan 18

“Kepada mereka aku bertanya, ‘Istana yang luar biasa indahnya ini apa?’ Mereka menjawab, ‘Ini surga!’ Hatiku bergetar. Dari pintu yang terbuka itu aku bisa sedikit melihat apa yang ada di dalamnya. Sangat menakjubkan (hlm. 398).

2. Latar Waktu
            Latar waktu yang dipaparkan penulis adalah pada pagi hari, siang, sore, dan malam hari. Pagi dini hari yaitu ketika Fahri dan teman-temannya mendengar Noura disiksa oleh Bahadur; siang hari adalah ketika Fahri melakukan aktivitas hariannya; sore hari adalah ketika Fahri pulang ke flatnya; malam hari ketika Fahri makan bersama teman satu flatnya dan ketika merayakan pesta ulang tahun Madame Nahed dan Yousef. Berikut kutipannya :
Kutipan 1
Dan malam ini kami melihat hal yang membuat hati miris. Noura disiksa dan diseret di dini hari ke jalan oleh ayahnya dan kakak perempuannya (hlm. 74).

Kutipan 2

Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen ( rasa malas melakukan sesuatu ), aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Sidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi ( belajar langsung face to face dengan seorang syaikh atau ulama ) pada Syaikh Utsman Abdul Fatah (hlm. 16).

Kutipan 3

Sampai di halaman apartemen aku sempat melihat jam tangan. Pukul tiga seperempat. Kepalaku seperti ditusuk tombak berkarat. Sangat sakit (hlm. 173).

Kutipan 4

Tepat tengah malam kami pergi ke suthuh.  Membawa tikar, nampan besar, empat gelas plastik, ashir mangga, tamar himdi, dan dua bungkus firoh masywi yang masih hangat dan sedap baunya. Kami benar-benar berpesta. Dua ciduk nasi hangat digelar di atas nampan. Sambal ditumpahkan. Lalu dua ayam bakar dikeluarkan dari bungkusnya. Tak lupa acar dan lalapan timun. Satu ayam untuk dua orang (hlm. 71).

Kutipan 5

Tuan Boutros membawa kami masuk ke restauran dan memilihkan tempat duduk yang paling menjorok ke sungai Nil seperti dek kapal. Terbuka tanpa atap, bintang-bintang kelihatan (hlm. 128).

3. Latar Suasana
Suasana di dalam cerita ini lebih di dominasi dengan haru. Suasana-suasana yang tampak pada novel ini adalah senang, sedih, bahagia, dan suasana mencekam. Suasana senang tampak ketika Fahri lulus dan bisa menulis tesis. Suasana sedih tampak pada Noura yang disiksa Bahadur, Nurul yang cintanya kepada Fahri yang terlambat, dan pada Maria yang merasakan sakit cinta hingga koma di rumah sakit. Suasana bahagia tampak ketika Fahri dibebaskan atas tuduhan pemerkosaan. Suasana mencekam ketika Bahadur menyiksa Noura, dan ketika Fahri berada di sel tahanan. Kutipannya adalah sebagai berikut.
Kutipan 1

“Mabruk. Kamu lulus. Kamu bisa nulis tesis. Tadi sore pengumumannya keluar.”
Aku merasa seperti ada hawa dingin turun dari langit. Menetes deras ke dalam ubun-ubun kepalaku lalu menyebar  ke seluruh tubuh. Seketika itu aku sujud syukur dengan berlinang air mata. Aku merasa seperti dibelai-belai tangan Tuhan. Setelah puas sujud syukurku aku mengungkapkan rasa gembiraku pada teman-teman satu rumah (hlm. 69-70).

Kutipan 2

Noura sesegukan di bawah tiang lampu merkuri. Ia duduk sambil mendekap tiang lampu itu seolah mendekap ibunya. Apa yang kini dirasakan ibunya di dalam rumah. Tidakkah ia melihat anaknya yang menangis tersedu dengan nada menyayat hati. Tak ada tetangga yang keluar. Mungkin sedang terlelap tidur. Atau sebenarnya terjaga tapi telah merasa sudah sangat bosan dengan kejadian yang kerap berulang itu (hlm. 74).

Kutipan 3

Dan apakah yang kini bisa kulakukan kecuali menangisi kebodohanku sendiri. Aku berusaha membuang rasa cintaku padamu jauh-jauh. Tapi sudah terlambat. Semestinya sejak semula aku bersikap tegas, mencintaimu dan berterus terang lalu menikah atau tidak sama sekali. Aku mencintaimu diam-diam selama berbulan-bulan, memeramnya dalam diri hingga cinta itu mendarah daging tanpa aku berani berterus terang. Dan ketika kau tahu apa yang kurasa semuanya telah terlambat (hlm. 287).

Kutipan 4

Aku tak kuasa menatapnya. Maria yang kulihat itu tidak seperti Maria yang dulu. Ia tampak kurus. Mukanya pucat dan layu. Tak ada senyum di bibirnya. Matanya terpejam rapat. Airmatanya terus meleleh. Entah kenapa tiba-tiba mataku basah. Seorang dokter setengah baya memintaku untuk berbicara dengan suara yang datang dari jiwa agar bisa masuk ke dalam jiwa Maria. “Ini penyakit cinta, hanya bisa disembuhkan dengan getaran-getaran cinta,” katanya padaku (hlm. 367).

Kutipan 5

Atas dasar semua bukti yang ada dan pengakuan Noura, akhirnya mau tidak mau Dewan Hakim memutuskan diriku untuk tidak bersalah dan bebas dari dakwaan apa pun. Takbir dan hamdalah bergemuruh di ruang pengadilan itu dilantunkan oleh semua orang yang membela dan bersimpati padaku. Seketika aku sujud syukur kepada Allah SWT. Aisha memelukku dengan tangis bahagia tiada terkira. Paman Eqbal dan Bibi Sarah tak mampu membendung airmatanya. Syaikh Ahmad dan Ummu Aiman juga sama. Nurul dan suaminya yaitu Mas Khalid datang memberi selamat dengan mata berkaca. Satu per satu orang Indonesia yang di dalam ruangan itu memberi selamat dengan wajah haru ( hlm. 388).

Kutipan 6

Benar, di gerbang apartemen kami melihat seorang gadis diseret oleh seorang lelaki hitam dan ditendangi tanpa ampun oleh seorang perempuan. Gadis yang diseret itu menjerit dan menangis. Sangat mengibakan. Gadis itu diseret sampai ke jalan.

Kutipan 7

Polisi gendut melepas pakaianku. Lalu menyuruhku berdiri menghadap tembok. Setelah itu aku merasakan sabetan cambuk yang perih di punggungku. Tidak sepuluh kali tapi lima belas kali. Aku merasakan sakit luar biasa. Mereka lalu melepas borgolku dan menyeretku ke sebuah ruangan, melucuti semua pakaianku kecuali pakaian dalam. Juga sepatuku. Dalam keadaan hanya memakai celana dalam mereka menggunduliku. Lalu melempar seragam tahanan ke arahku (hlm. 310).


E.   Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya ( Aminuddin, 2010:90 ). Sudut pandang atau biasa diistilahkan dengan point of view atau titik kisah meliputi (1) narrator omniscient, (2) narrator observer, (3) narrator observer omniscient, dan (4) narrator the third person omniscient.
Narrator omniscient adalah narator atau pengisah yang juga berfungsi sebagai pelaku cerita. Narrator observer adalah bila pengisah hanya berfungsi sebagai pengamat terhadap pemunculan para pelaku serta hanya tahu dalam batas tertentu tentang perilaku batiniah para pelaku. Berkebalikan dengan narrator observer, dalam narrator omniscient pengarang, meskipun hanya menjadi pengamat dari pelaku, dalam hal itu juga merupakan pengisah atau penutur yang serba tahu meskipun pengisah masih juga menyebut nama pelaku dengan ia, mereka, maupun dia.
Dalam cerita fiksi, mungkin saja pengarang hadir di dalam cerita yang diciptakannya sebagai pelaku ketiga yang serba tahu. Dalam hal ini, sebagai pelaku ketiga pengarang masih mungkin menyebutkan namanya sendiri, saya atau aku.  Sebagai pelaku ketiga yang tidak hanya terlibat secara langsung dalam keseluruhan, satuan dan jalinan cerita, pengarang dalam hal ini masih merupakan juga sebagai penutur yang serba tahu tentang ciri-ciri fisikal, psikologis, maupun kemungkinan kadar nasib yang nanti dialami oleh pelaku.
Dalam novel ini, bisa dikatakan bahwa sudut pandang yang digunakan yaitu pelaku ketiga serba tahu. Sudut pandang ini lebih menitikberatkan Fahri sebagai tokoh utama yang menjadi titik pandang dari keseluruhan cerita. Di semua bagian cerita, Fahri memposisikan diri sebagai “aku”, yang memaparkan dengan jelas kejadian-kejadian berdasarkan yang dialaminya.

BAB III
PENUTUP
A.   Simpulan
Dari analisis novel yang telah saya paparkan diatas, maka dapat saya simpulkan bahwa :
1. Tema dari novel Ayat-ayat Cinta adalah tentang percintaan yang kental dengan nuansa religi, yang terjadi di sekitar Timur Tengah. Dapat kita lihat, empat orang wanita sama-sama menyukai satu orang, yaitu Fahri. Mereka mencintai Fahri karena sifat dan sikapnya yang baik, serta menjadi idaman setiap wanita. Cara mereka mencintai juga bernuansa religi, tidak vulgar, namun tampak secara perlahan.
2.  Menurut saya, alur yang digunakan pada novel ini merupakan alur campuran. Pada bagian awal memang menggunakan alur maju. Namun di satu sisi pengarang sering memaparkan kisah masa lalu dari tokoh-tokoh di novel ini, sehingga kita ikut terhanyut untuk flashback ke masa lalu tersebut.
3.  Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy adalah sebagai berikut :
            a. Fahri,          
            b. Maria,                                 
c. Aisha,                     
            d. Nurul,
            e.  Syaikh Utsman Abdul Fattah,
f. Keluarga Maria,
g. Teman satu flat Fahri, dan
h. Noura dan keluarganya.
4.  Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar suasana.
     a.  Latar Tempat
Di dalam novel ini, banyak tempat-tempat sekitar Cairo yang dipaparkan oleh penulis. Misalnya, di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak si Shubra El-Kaima, ujung utara Cairo; serambi Masjid Al-Azhar; di Dokki, tepatnya di Masjid Indonesia Cairo; Rab’ah El-Adawea, Nasr City; Tura El-Esmen; Hadayek Helwan; Masjid Al-Fath Al-Islami; mahathah metro; Maadi, sebuah kawasan elite di Cairo setelah Heliopolis, Dokki, El-Zamalek, dan Mohandesen;  Sayyeda Zaenab;  Tahrir;  Mahattah El-Behous;  Attaba;  flat;  rumah sakit;  Alexandria;  pengadilan; dan di surga.
b. Latar Waktu
            Latar waktu yang dipaparkan penulis adalah pada pagi hari, siang, sore, dan malam hari. Pagi hari yaitu ketika Fahri dan teman-temannya mendengar Noura disiksa oleh Bahadur; siang hari adalah ketika Fahri melakukan aktivitas hariannya; sore hari adalah ketika Fahri pulang ke flatnya; malam hari ketika Fahri makan bersama teman satu flatnya dan ketika merayakan pesta ulang tahun Madame Nahed dan Yousef.

c. Latar Suasana
     Suasana di dalam cerita ini lebih di dominasi dengan haru. Suasana-suasana yang tampak pada novel ini adalah senang, sedih, bahagia, dan suasana mencekam. Suasana senang tampak ketika Fahri lulus dan bisa menulis tesis. Suasana sedih tampak pada Noura yang disiksa Bahadur, Nurul yang cintanya kepada Fahri yang terlambat, dan pada Maria yang merasakan sakit cinta hingga koma di rumah sakit. Suasana bahagia tampak ketika Fahri dibebaskan atas tuduhan pemerkosaan. Suasana mencekam ketika Bahadur menyiksa Noura, dan ketika Fahri berada di sel tahanan.
5.  Dalam novel ini, bisa dikatakan bahwa sudut pandang yang digunakan yaitu pelaku ketiga serba tahu. Sudut pandang ini lebih menitikberatkan Fahri sebagai tokoh utama yang menjadi titik pandang dari keseluruhan cerita. Di semua bagian cerita, Fahri memposisikan diri sebagai “aku”, yang memaparkan dengan jelas kejadian-kejadian berdasarkan yang dialaminya.

 DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2010. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Anonim. Memperkenalkan Tokoh Watak, ( Online ) , (http://memperkenal-kan-tokoh-watak.-123337/4756.pdf , diakses pada 20 Oktober 2011 )
El Shirazy, Habiburrahman. Ayat-ayat Cinta. 2006. Jakarta : Republika.
Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Jakarta : PT. Buku Seru.
Luxemburg, Jan Van, dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Diindonesiakan oleh Dick Hartoko. Jakarta : PT. Gramedia.
Musthafa, Bachrudin. 2008. Teori dan Praktik Sastra. Jakarta : PT. Cahaya Insan Sejahtera.
Suwondo, Tirto, dkk. 2001. Metodologi Penelitian Sastra.Yogyakarta : PT. Hanindita Graha Widya.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya.
Tim Prima Pena. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Gita Media Press.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusasteraan. Terjemahan Melani Budianto. Jakarta : Gramedia.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar