Kamis, 24 November 2011

Pendekatan Struktural

Mata Kuliah              : Kajian Prosa
Dosen Pengampu      : Dra. Sesilia Seli, M.Pd.
Hari, tanggal              : Rabu, 23 November 2011
Penyaji                      : 1. Aan Sutrisno ( F11110009 )
                                   2. Fur Shintari ( F11110001 )
                                   3. Dina Apriana ( F11110027 )
                                   4. Oni Sumiati ( F11110031 )


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam penelitian karya sastra, analisis atau pendekatan objektif terhadap unsur-unsur intrinsik atau struktur karya sastra merupakan tahap awal untuk meneliti karya sastra sebelum memasuki penelitian lebih lanjut (Damono, 1984:2 dalam. Pendekatan struktural merupakan pendekatan intrinsik, yakni membicarakan karya tersebut pada unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Pendekatan tersebut meneliti karya sastra sebagai karya yang otonom dan terlepas dari latar belakang sosial, sejarah, biografi pengarang dan segala hal yang ada di luar karya sastra(Satoto, 1993: 32) Pendekatan struktural mencoba menguraikan keterkaitan dan fungsi masing-masing unsur karya sastra sebagai kesatuan struktural yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1984: 135). Jadi simpulannya bahwa pendekatan struktural adalah suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang cara kerjanya menganalisis unsur-unsur struktur yang membangun karya sastra dari dalam, serta mencari relevansi atau keterkaiatan unsur-unsur tersebut dalam rangka mencapai kebulatan makna.
            Mengenai struktur, Wellek dan Warren (1992: 56) memberi batasan bahwa struktur pengertiannya dimasukkan kedalam isi dan bentuk, sejauh keduanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan estetik. Jadi struktur karya sastra (fiksi) itu terdiri dari bentuk dan isi.  Menurut Jan Van Luxemburg (1986: 38) struktur yang dimaksudkan, mengandung pengertian relasi timbal balik antara bagian-bagiannya dan antara keseluruhannya. Struktur karya sastra (fiksi) terdiri atas unsur unsur alur, penokohan, tema, latar dan amanat sebagai unsur yang paling menunjang dan paling dominan dalam membangun karya sastra (fiksi) (Sumardjo, 1991:54).
            Analisis karya sastra dengan pendekatan strukturalisme memiliki berbagai kelebihan, diantaranya yakni,  pendekatan struktural memberi peluang untuk melakukan telaah atau kajian sastra secara lebih rinci dan lebih mendalam, pendekatan ini mencoba melihat sastra sebagai sebuah karya sastra dengan hanya mempersoalkan apa yang ada di dalam dirinya, memberi umpan balik kepada penulis sehingga dapat mendorong penulis untuk menulis secara lebih berhati-hati dan teliti (Semi, 1993: 70).

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari struktural murni, struktural genetik, dan struktural dinamik ?
2.      Bagaimana penerapan karya sastra dalam pendekatan struktural murni, struktural genetik, dan struktural dinamik ?
3.      Apa manfaat dari  pendekatan struktural murni, struktural genetik, dan struktural dinamik ?

1.3  Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian dari struktural murni, struktural genetik, dan struktural dinamik.
2.      Mengetahui penerapan karya sastra dalam pendekatan struktural murni, struktural genetik, dan struktural dinamik.
3.      Mengetahui pendekatan struktural murni, struktural genetik, dan struktural dinamik

BAB II
PENDEKATAN STRUKTURAL

2.1    Strukturalisme Murni
Historitas teori strukturalisme murni dalam ilmu sastra lahir dan berkembang melalui tradisi formalisme. Artinya hasil-hasil yang dicapai melalui tardisi-tradisi formalisme sebagian besar dilanjutkan dalam strukturalisme. Di suatu pihak para pelopor formalisme sebagian besar ikut andil dalam mendirikan strukturalisme, di lain pihak atas dasar pengalaman formalismelah mereka mendirikan strukturalisme dengan pengertian bahwa berbagai kelemahan yang terdapat dalam formalisme di perbaiki kembali oleh strukturalisme oleh karena itulah Mukarosvky seorang tokoh formalis Rusia berpendapat bahwa strukturalisme yang mulai diperkenalkan pada tahun 1934 tidak menggunakan nama metode ataupun teori sebab teori merupakan bidang ilmu pengetahuan tertentu sedangkan metode merupakan prosedur imiah yang relaif baku. Pada masa tersebut strukturalisme terpaku dan terbatas sebagai sudut pandang epestimologi saja, sebagi sistem tertentu dengan mekanisme antarhubungan. Oleh sebab itu Robert Schools (1977 dalam http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2010/04/perbandingan-teori-strukturalisme-murni.html) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap, yaitu: sebagai pergeseran paradigma berfikir, sebagai metode dan terakhir sebagai teori. Mekanisme seperti ini merupakan cara yang biasa dalam perkembangan ilmu pengetahuaan. Jadi bisa dikatakan bahwa strukturalisme mulai dengan lahirannya ketidakpuasan dan berbagai kritik terhadap formalisme.
Pendekatan strukturalisme murni biasa disebt juga dengan pendekatan objektif yakni pendekatan penelitiaan sastra yang mendasarkan pada karya sastra tersebut. Secara keseluruhan (otonom). Pendekatannya dilihat dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku, konvensi tersebut adalah aspek-aspek instriktik karya sastra yang meliputi didalamnya kebulatan makna, diksi, rima, struktur kalimat, tema, plot, setting, karakter, dan lainnya. Yang jelas penilaian yang diberikan diihat dari sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra tersebut berdasarkan keharmonisan semua unsur-unsur pembentuknya tadi.
Satu  konsep dasar yang menjadi ciri khas teori struktural adalah adanya anggapan bahwa di dalam dirinya sendiri karya sastra merupakan suatu struktur yang otonom yang dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur pembangunnya yang saling berjalinan (Pradopo dkk., 1985:6). Oleh karena itu, untuk memahami maknanya, karya sastra harus dikaji berdasarkan strukturnya sendiri, lepas dari latar belakang sejarah, lepas dari diri dan niat penulis, dan lepas pula efeknya pada pembaca (Beardsley via Teuw, 1983:60 dalam Pradopo dkk., 2001:54). Jadi, yang penting hanya close reading, pembacaan secara mikroskopi dari karya sebagai penciptaan bahasa.
Menurut Hawks (1978:17-18 dalam Pradopo dkk., 2001:54-55) strukturalisme adalah:
a.    Cara berpikir tentang dunia yang dikaitkan dengan persepsi struktur.
b.    Pada hakikatnya dunia ini tersusun dari hubungan-hubungan dari benda-benda itu sendiri.
c.    Setiap unsur tidak memiliki makna sendiri-sendiri, kecuali dalam hubungannya dengan unsur lain sesuai dengan posisisnya di dalam, keseluruhan struktur.
d.   Struktur merupakan sebuah sistem yang terdiri atas sejumlah unsur yang diantaranya tidak satupun dapat mengalami perubahan tanpa menghasilkan perubahandalam semua unsur lain.
Menurut Jeans Piaget dalam pengertian struktur terkandung tiga gagasan pokok, yaitu:
a.       Gagasan keseluruhan (wholeness); bagian-bagian atau anasirnya menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrinsik yang menentukan baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya.
b.      Gagasan transformasi/perpindahan (transformation); struktur itu menyanggupi prosedur transformasi yang terus-menerusmemungkinkan pembentukan bahan-bahan baru.
c.       Gagasan mandiri (self regulation); tidak membutuhkan hal-hal dari luar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasinya.
Dari konsep dasar di atas, dapat dinyatakan bahwa dalam rangka studi sastra strukturalisme menolak campur tangan pihak luar. Jadi, memahami karya sastra berarti memahami unsur-unsur atau anasir yang membangun struktur.

2.1.2 Penerapan Pendekatan Stukturalisme Murni
Pendekatan ini lebih banyak digunakan dalam bidang puisi (Jefferson, 1982:84) Dalam lingkup puisi , Pradopo (2000: 14) menguraikan bahwa karya sastra itu tak hanya merupakan satu sistem norma, melainkan terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma dibawahnya. Mengacu pendapat Roman Ingarden, seorang filsuf Polandia, Rene Wellek dalam Pradopo (2000:14) menguraikan norma-norma itu , yaitu:
a.       lapis bunyi  (sound stratum), misalnya bunyi suara dalam kata,frase, dan kalimat,
b.      lapis arti (units of meaning), misalnya arti dalam fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat,
c.       lapis objek, misalnya objek-objek yang dikemukakan seperti latar, pelaku, dan dunia pengarang.
Selanjutnya Roman Ingarden masih menambahkan dua lapis norma lagi (1) lapis dunia, dan (2) lapis metafisis.
Dalam lingkup karya fiksi, Stanton (1965: 11-36 dalam Pradopo dkk., 2001:56) mendeskripsikan unsur-unsur karya sastra sebagai berikut:
a.       tema;
b.      fakta cerita, terdiri atas alur, tokoh, dan latar;
c.       sarana sastra, terdiri atas sudut pandang, gaya bahasa dan suasana, simbol-simbol, imaji-imaji, dan juga cara pemilihan judul.
Jadi, dalam analisis struktural murni, unsur-unsur atau anasir itulah yang dikaji dan diteliti.

2.2    Strukturalisme Genetik
Strukturalisme genetik adalah pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi dari pendekatan strukturalisme murni yang anti historis dan kausal. Pencetus pendekatan strukturalisme genetik adalah Lucien Goldman, seorang ahli sastra Perancis. Pendekatan ini merupakan satu-satunya pendekatan yang mampu merekonstruksikan pandangan dunia pengarang. Pendekatan ini memasukkan faktor genetik di dalam pemahaman karya sastra. Genetik karya sastra artinya asal-usul karya sastra.faktor yang terkaiat dengan asal-usul karya sastra adalah pengarang dan kenyataan sejarah yang turut mengondisikan karya sastra saat diciptakan.
Dapat dikatakan bahwa pendekatan strukturalisme genetik memunyai segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi apabial para peneliti sendiri tidak melupakan atau tetap memprtahankan segi-segi intrinsik yang membangun karya sastra, di samping memerhatikan faktor-faktor sosiologis, serta menyadari sepenuhnya bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan memanfaatkan faktor imajinasi.
Menurut Goldman, ada dua macam karya sastra. Pertama, karya sastra pengarang utama, yakni karya sastra yang strukturnya sebangun dengan struktur kelompok atau kelas sosial tertentu. Kedua, karya sastra pengarang kelas dua, yakni karya sastra yang sekedar raproduksi segi permukaan realitas sosial dan kesadaran kolektif. Nah, karya sastra yang cocok diteliti dengan kajian strukturalisme genetik adalah karya sastra yang pertama, karena, menurut Goldman, di dalam karya tersebut terdapat apa yang disebut dengan “problematik hero” yaitu permasalahan-permasalahan yang berhadapa  n dengan kondisi sosial yang dari sana pengarang berusaha mendapatkan/menentukan suatu nilai tertentu yang diimplementasikannya kedalam karyanya. Mengetahui nilai tersebut berarti menangkap pandangan dunia sang sastrawan.
Adapun penerapan terhadap pendekatan strukturalisme genetik ini, dapat dilakukan dengan dimulai dari kajian unsur-unsur intrinsik sastra, baik secara parsial maupun kajian keseluruhan. Kemudian mengkaji latar belakang kehidupan sosial kelompok pengarang karena ia merupakan bagian dari komunitas masyarakat tertentu. Di samping itu tidak luput juga untuk mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengondisikan karya sastra saat ia diciptakan oleh pengarang. Dan akhir dari kegiatan ini, adalah berhasil untuk mengungkap pandangan dunia pengarang tersebut.
Secara sederhana penelitian dengan metode strukturalisme genetik dapat diformulasikan sebagai berikut.
a.    Penelitian harus dimulakan pada kajian unsur intrinsik sastra, baik secara parsial maupun dalam jalinan keseluruhannya.
b.    Mengkaji latar belakang kehidupan sosial kelompok pengarang karena ia merupakan bagian dari komunitas kelompok tertentu.
c.    Mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang.
Menurut Laurenson dan Swingewood yang disetujui oleh Goldman, adapun langkah-langkah penelitian menggunakan pendekatan strukturalisme genetik adalah sebagai berikut:
a.       Penelitian sastra itu dapat kita ikuti sendiri. Mula-mula sastra diteliti strukturnya untuk membuktikan jaringan bagian-bagiannya sehingga terjadi keseluruhan yang padu dan holistik.
b.      Penghubungan dengan sosial budaya. Unsur-unsur kesatuan karya sastra dihubungkan dengan sosio budaya dan sejarahnya, kemudian dihubungkan dengan struktur mental yang berhubungan dengan pandangan dunia pengarang.
c.       Selanjutnya, untuk mencapai solusi atau simpulan digunakan metode induktif, yaitu metode pencarian simpulan dengan jalan melihat premis-premis yang sifatnya spesifik untuk selanjutnya mencari premis general.

2.3    Strukturalisme Dinamik
Pengkajian karya sastra berdasarkan strukturalisme dinamik merupakan pangkajian strukturalisme dalam rangka semiotik. Artinya, karya sastra dipertimbangkan sebgaai sistem tanda. Sebagai suatu tanda karya sastra memunyai dua fungs. Yang pertama adalah otonom, yaitu tidak menunjik di luar dirinya; yang kedua bersifat informasional, yaitu menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan. Kedua sifat itu saling berkaiatan. Dengan demikian, sebagai sebuah struktur, karya sastra selalu bersifat dinamis. Dinamika itu pertama-tama diakibatkan oleh pembacaan kreatif oleh pembaca yang dibekali oleh konvensi yang selalu berubah dan pembaca sebagai homo significans, makhluk yang membaca dan mencipta tanda (Culler, 1975:130 dalam Pradopo dkk., 2001:65). Untuk mempertahankan sifat ikonik sastra sebagai tanda, pembaca yang baik akan mempertahankan norma sastra yang dibentuk dari konvensinya. Pada titik ini komunikasi terjadi karena pembaca dan karya sastra diciptakan oleh pengarang berada pada “kompetensi sastra” (Culler, 1975:130 dalam Pradopo dkk., 2001:65) yang sama. Akan tetapi, sifat sarana sastra yang arbiter akan menyebabkan tafsir sastra akan terus berkembang sejalan dengan perubahan atau perkembangan tata nilai dalam masyrakat.
Jika strukturalisme dinamik diterapkan dalam pengkajian sastra, terdapat dua hal yang harus dipertahankan, yaitu:
a.       Peneliti bertugas menjelaskan sebuah sastra sebagai sebuah struktur berdasarkan unsur-unsur atau elemen-elemen yang membentuknya.
b.      Peneliti bertugas menjelaskan kaiatan antara pengarang, realitas, karya sastra dan pembaca.
Kedua hal tersebut memiliki kaitan erat. Di satu pihak oengarang melalui kata-katanya sebagai pembawa makna ke dalam stryktur karya sastra. Di pihak lain pembaca sebagai penfsir atas karya-karya tersebut. Keduanya senantiasa bersumber pada konvensi-konvensi budaya yang telah berlangsung dan terjadi sebagaimana dikandung dalam realitas.
Jadi dapat dikatakan bahwa strukturalisme dinamik adalah kajian strukturalisme dalam rangka semiotik. Artinya, karya sastra dikaitkan dengan sistem tanda. Tanda mempunyai dua fungsi: otonom, yakni tidak menunjuk di luar dirinya dan informasional, yakni menyampaikan pikiran, perasaan dan gagasan. Adapun penerapannya dapat dilakukan dengan pertama-tama menjelaskan struktur karya sastra yang diteliti. Kemudian menjelaskan kaitan pengarang, realitas, karya sastra dan pembaca.

BAB III
PENUTUP


3.1 Simpulan
       Dalam pendekatan strukrural dibedakan menjadi tiga yaitu pendekatan strukturalisme murni ,pendekatan strukturalisme genetik,dan pendekatan strukturalisme dinamik.
       Historitas teori strukturalisme murni dalam ilmu sastra lahir dan berkembang melalui tradisi formalisme. Artinya hasil-hasil yang dicapai melalui tardisi-tradisi formalisme sebagian besar dilanjutkan dalam strukturalisme.
       Pendekatan srukturalisme genetik memunyai segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi ,apabila para peneliti  sendiri tidak melupakan atau  tetap memperhatikan  segi-segi intrinsik  yang membangun karya sastra , disamping memperhatikan faktor-faktor  sosiologis , serta menyadari sepenuhnya bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan memanfaatkan  faktor imajinasi.
       Jika strukturalisme dinamik diterapkan  dalam pengkajian  satra, terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu, peneliti bertugas menjelaskan karya sastra sebagai  sebuah struktur berdasarkan  unsur-unsur atau elemen-elemen yang membentuknya dan peneliti  bertugas menjelaskan kaitan antara pengarang, realitas, karya sastra, dan pembaca. Di satu pihak pengarang melalui kata-katanya sebagai pembawa makna ke dalam struktur karya sastra. Di pihak lain, pembaca sebagai penafsir atas makna – makna tersebut. Keduanya senantiasa bersumber pada konvensi- konvensi budaya yang telah berlangsung dan terjadi sebagaimana dikandung dalam realitas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar